Eksistensikoe

Menemukan kehidupan yang berjati diri melalui puisi, artikel, cerita yang bermakna

Pertanyaan Tersebut

leave a comment »

Kenapa seringkali aku memandang orang-orang di sekitarku dengan pertanyaan yang sama: Mengapa mereka melakukan semua ini? Bagaimana mereka memaknai kehidupannya? Apakah terpikir oleh mereka bahwa hidup ini tak pasti dan singkat? Jika iya mengapa mereka melakukan semua itu?

Bagiku itu merupakan pertanyaan yang selalu muncul dalam benakku di setiap langkah nafas kehidupanku. Pertanyaan itu yang selalu menjadi perenungan ku. Aku mencintai kehidupan dan ingin senantiasa belajar hal baru dari setiap yang aku temui dalam keseharianku. Benar salah, berhasil gagal, baik buruk, dan dualisme lainnya datang dan pergi menyapa dan aku masih berproses lama di situ untuk memberikan respon yang terbaik. Dan semakin aku mencoba memahami semakin aku diterjang pertanyaan tersebut di dalam benakku.

Untuk apa hidupku? Sejauh ini jawaban yang terbaik yang aku temui dan aku gunakan sesuai dengan kebutuhan adalah 4 saran dari Rene Suhardono dalam bukunya Your Job Is Not Your Career, yaitu bahwa hidup adalah untuk menemukan passion-ku dan menjalaninya, menentukan tujuan hidupku, menentukan dan membangun prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidupku, dan berkontribusi untuk keluarga, orang lain, masyarakat, negara, dunia, dan alam semesta. Namun keempatnya masih bisa dikritisi dengan bertanya “lalu mengapa kita melakukan semua itu dalam hidup?”.

Dalam wawasanku yang masih dangkal ini, aku masih akan mengalami perenungan yang panjang untuk menjawab pertanyaan itu. Aku masih harus membutuhkan pengetahuan yang luas, pengalaman yang beragam, dan pemaknaan yang kritis. Mungkin aku terlalu logis dan cenderung terlihat mengeyampingkan keyakinan (iman), tapi aku percaya bahwa kita bisa merasakan Tuhan di segala hal termasuk logika dan iman. Dan bagiku logika adalah jalan tempuh yang harus kulalui untuk memasuki hati nurani/iman yang benar-benar matang dan tak tergoyahkan.

Tantangan yang berat akan datang terutama ketika aku bergelimang harta dan kemakmuran atau sebaliknya aku jatuh miskin. Saat aku kaya dan ibaratnya semua bisa kubeli, aku akan sangat tergoda untuk mengabaikan pertanyaan tersebut dan terbuai dalam kenikmatan dunia. Saat aku miskin, aku akan sangat tergoda untuk pesimis, cenderung berlebihan, kecewa, dan terlalu sensitif dalam ketidakpuasan menjalani hidup dan akhirnya pertanyaan tersebut terlupakan. Tantangan harus dihadapi dengan kesadaran dan kebijaksanaan sehingga aku bisa tetap bertahan untuk konsisten menjalani apa yang terbaik bagi diriku dan tetap berjuang menjawab pertanyaan tersebut.

Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk mempertanyakan dan memaknai kehidupan yang tak pasti dan singkat.

Advertisement

Written by Bagoes

April 4, 2011 at 9:44 am

Posted in Cerita

Tagged with , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.