Doa Seorang Sarjana
Allah Bapa Yang Maha Baik
Terima kasih atas berkat-Mu sehingga saya sekarang resmi menjadi sarjana. Namun kenapa saya merasa sedih ya?
Kedua orang tua saya hadir kok.
Ya walaupun dengan persiapan dan penyambutan untuk saya yang rasa-rasanya kok sekedarnya. Tak ada pesta makan bersama keluarga. Tak ada pesangon yang cukup untuk mengadakan makan-makan bersama teman-teman. Setidaknya saya bisa foto wisuda..walaupun ibuku belakangan terlihat berat untuk mengeluarkan biaya foto(bisa-bisanya uang foto mempengaruhi uang jajan ku perhari yg sma sekali ga teratur itu)..sesedikit itukah ketulusan mereka untuk menyenangkan diri mereka sendiri dan anaknya yang mungkin hanya sekali seumur hidup mengalami peristiwa ini? Sebegitu terbebanikah mereka sehingga mereka getol mendorongku untuk segera cepat-cepat bekerja? Seakan-akan mereka baru akan “memandangku” saat aku sudah berduit dan bisa menjadi sumber baru bagi mereka..apakah nggak ada artinya “aku sudah sarjana” bagi mereka?
Tapi..kedua orang tua saya hadir kok.
Bapa..ampuni aku orang berdosa ini..hanya saja saat ini aku merasa bahwa tidak ada artinya aku memperjuangkan dan membanggakan semua ini di depan mereka..yang ada hanya tuntutan dan tuntutan..
Aku rindu akan penghargaan pada diriku apa adanya..memahami apa yang kusuka dan tidak..dan yang paling penting: mendukungku di kala aku merasa jatuh dan kecewa…
Think Globally Act Locally
Beberapa waktu yang lalu saya membaca artikel yang dalam salah satu kalimatnya berbunyi “think globally, act locally” yang artinya berpikir secara global, bertindak secara lokal. Menurut saya, itu adalah kalimat yang wajib dikoleksi dalam kamus prinsip pribadi masing-masing orang, khususnya bagi individu yang ingin berkembang dan mengoptimalkan potensi dirinya untuk berkontribusi bagi dunia. Kenapa? Karena prinsip ini sangat relevan dengan kondisi zaman modern yang sekarang sedang kita rasakan. Jarak sudah bukan masalah lagi ketika alat komunikasi dan teknologi semakin maju dan berkembang pesat. Antara negara yang satu dengan negara yang lain saling mempengaruhi dan saling berinteraksi melalui kanal politik, budaya, dan terutama ekonomi perdagangan. Kondisi ini memaksa kita untuk peka terhadap situasi yang terus berubah-ubah dan membuat kita harus mengikuti gerak langkah tren dan budaya dunia untuk bisa bertahan hidup.
Namun apabila berlebihan akan muncul dampak negatif yang menurut saya sangat krusial, yaitu kita bisa lupa dan kehilangan budaya dan identitas kita. Oleh sebab itu diperlukan tindakan yang berorientasi pada kemajuan bangsa dan masyarakat sendiri sehingga kita mampu bersaing di level dunia dalam bidang apapun. Sangat mungkin kita bisa menjadi bangsa yang memiliki budaya kuat dan mampu mempengaruhi bangsa dan negara lain, seperti negara-negara barat yang saat ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada kebudayaan dan gaya hidup masyarakat timur khususnya Indonesia.
Secara sederhana, inilah beberapa mindset dasar yang mungkin bisa membantu kita dalam mengamalkan prinsip “think globally, act locally”:
1. Terbukalah dengan segala hal, bahkan hal-hal yang bertentangan dengan prinsip, kebiasaan, atau budaya kita. Terbuka BUKAN berarti menerima dan menjalankan. Alangkah baiknya apabila dipelajari, dipahami, dan berikan apresiasi positif. Apabila ternyata diri kita nyaman akan hal itu, silakan memilih apakah mau mengadopsi atau mengabaikannya
2. Jangan mudah ikut arus. Jadilah diri sendiri yang unik dan jangan takut menjadi berbeda sejauh itu tidak merugikan diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar. Angin akan berhembus kencang ketika kita menjadi berbeda di antara umum, namun percayalah ketika apa yang kita yakini itu benar dan terbaik untuk diri kita sendiri maka bertahanlah dan kita akan lihat matahari bersinar terang di pagi yang cerah
3. Pelajari banyak hal (yang disukai maupun yang tidak disukai) supaya wawasan luas. Kita perlu mandiri dalam membuat keputusan bagi diri kita sendiri dalam hal apapun juga, oleh sebab itu diperlukan pikiran yang luas dan terbiasa untuk berpikir secara kritis dan mendalam
4. Bermimpi dan bercita-cita lah setinggi mungkin. Hidup kita singkat, jangan disia-siakan dengan hanya bermimpi yang kecil-kecil. Ketika kita bermimpi yang besar maka usaha kita juga akan besar dan tentunya akan semakin besar pula impian kita akan terwujud (kita tidak tahu sebesar apa potensi diri kita sampai kita mencoba untuk terus mengasah diri). Setiap orang berhak untuk menjadi apa yang dia impikan dan cita-citakan.
5. Bawalah ciri khas dan identitas daerah tempat asal kita dengan bangga dan elegan. Pahami budaya kita sendiri dan pertahankan nilai-nilai positif yang ada. Jadikanlah nilai-nilai positif itu sebagai bagian dari kepribadian dan karakter kita.
6. Prioritaskan pada masyarakat dan bangsa kita ketika berkarya dan berkontribusi.
dan masih banyak lagi prinsip-prinsip pendukung yang dapat membantu kita dalam ber-metamorfosis untuk menjadi manusia Indonesia yang mampu berpikir luas layaknya bola dunia dan bertindak lokal seperti Jenderal Sudirman yang berjuang gigih demi kemerdekaan rakyat dan bangsa Indonesia.
Mari kita merdekakan diri kita masing-masing untuk meraih impian dan cita-cita kita, lalu kontribusikan diri kita untuk membantu sesama meraih kemerdekaannya dan akhirnya bahu membahu membangun bangsa dan rakyat untuk merdeka dalam filosofi yang sebenarnya.
iklan——-
A: perasaan hari kemerdekaan masih jauh deh..lebay gitu..
B: ga tau ney..tiba-tiba berasa nasionalis banget gitu deh..
A: tapi boleh juga tu artikelnya..
B: terima kasih
semoga menjadi berkah…
A: aminnnnn….
Pertanyaan Tersebut
Kenapa seringkali aku memandang orang-orang di sekitarku dengan pertanyaan yang sama: Mengapa mereka melakukan semua ini? Bagaimana mereka memaknai kehidupannya? Apakah terpikir oleh mereka bahwa hidup ini tak pasti dan singkat? Jika iya mengapa mereka melakukan semua itu?
Bagiku itu merupakan pertanyaan yang selalu muncul dalam benakku di setiap langkah nafas kehidupanku. Pertanyaan itu yang selalu menjadi perenungan ku. Aku mencintai kehidupan dan ingin senantiasa belajar hal baru dari setiap yang aku temui dalam keseharianku. Benar salah, berhasil gagal, baik buruk, dan dualisme lainnya datang dan pergi menyapa dan aku masih berproses lama di situ untuk memberikan respon yang terbaik. Dan semakin aku mencoba memahami semakin aku diterjang pertanyaan tersebut di dalam benakku.
Untuk apa hidupku? Sejauh ini jawaban yang terbaik yang aku temui dan aku gunakan sesuai dengan kebutuhan adalah 4 saran dari Rene Suhardono dalam bukunya Your Job Is Not Your Career, yaitu bahwa hidup adalah untuk menemukan passion-ku dan menjalaninya, menentukan tujuan hidupku, menentukan dan membangun prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidupku, dan berkontribusi untuk keluarga, orang lain, masyarakat, negara, dunia, dan alam semesta. Namun keempatnya masih bisa dikritisi dengan bertanya “lalu mengapa kita melakukan semua itu dalam hidup?”.
Dalam wawasanku yang masih dangkal ini, aku masih akan mengalami perenungan yang panjang untuk menjawab pertanyaan itu. Aku masih harus membutuhkan pengetahuan yang luas, pengalaman yang beragam, dan pemaknaan yang kritis. Mungkin aku terlalu logis dan cenderung terlihat mengeyampingkan keyakinan (iman), tapi aku percaya bahwa kita bisa merasakan Tuhan di segala hal termasuk logika dan iman. Dan bagiku logika adalah jalan tempuh yang harus kulalui untuk memasuki hati nurani/iman yang benar-benar matang dan tak tergoyahkan.
Tantangan yang berat akan datang terutama ketika aku bergelimang harta dan kemakmuran atau sebaliknya aku jatuh miskin. Saat aku kaya dan ibaratnya semua bisa kubeli, aku akan sangat tergoda untuk mengabaikan pertanyaan tersebut dan terbuai dalam kenikmatan dunia. Saat aku miskin, aku akan sangat tergoda untuk pesimis, cenderung berlebihan, kecewa, dan terlalu sensitif dalam ketidakpuasan menjalani hidup dan akhirnya pertanyaan tersebut terlupakan. Tantangan harus dihadapi dengan kesadaran dan kebijaksanaan sehingga aku bisa tetap bertahan untuk konsisten menjalani apa yang terbaik bagi diriku dan tetap berjuang menjawab pertanyaan tersebut.
Hidup adalah pilihan dan aku memilih untuk mempertanyakan dan memaknai kehidupan yang tak pasti dan singkat.
Kubahan
Kubahan itu membuka perlahan-lahan
Tercium aroma wangi bayang diri
Dan kemudian terangkatlah semua
Menjadi atom-atom berkeliaran
Memandang ke segala arah
Tuk cari tali yang terbantukan
Kulitnya yang tlah merekah
Oleh sentuhan duniawi
Dan indra-indra yang dimilikinya
Tak mampu menampung rasa haus
Yang tiba-tiba melanda
Belumlah cukup kiranya kubahan itu
Tuk membeku dan berproses
Akan ada lagi bintang yang dipandang
Bersinar dan melegakan kubahan
Menerangi jalan takdirnya pada-Nya
Indah Adanya
Berteduh sejenak di peraduan diri
Setelah mencerna likunya kehidupan
Tak mudah bagiku untuk mengurai
Memilah dan menentukan sikap
Tentang semua yang harus dipahami
Di manakah rangkaian asa
Yang kuperlukan untuk memeluk
Keindahan komposisi alam
Satu terendam oleh karmanya
Dan satu terperanjat oleh nyata dunia
Satu samar tak menentu
Dan satu melelahkan dirinya
Namun di saat semua berjalan
Saling tercampur rasanya
Selalu ada kesempatan
Ada ingin untuk nikmati
Dan syukuri yang terjadi
Selagi ku tetap sabar
Menanti sapaan dari dia
Yang tak pernah termakan malam